Selasa, 03 Oktober 2017

Makalah Adabul Muallim Wa Al Muta'allim

Adabul Muallim Wa Al Muta’allim
 Dan Adab seorang Guru

MAKALAH

Tugas ini dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada mata Kuliah Adabul Muallim Wa Al Muta’allim pada Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam  Semester 3
                                                                        OLEH:

Chilma Nihayatul Ulya         02161140
Asriana                                  02161127
Ulpa Reni                               02161113

Dosen Pemandu : H.Misbahuddin, S.Pd.M.Pd
                                   
                                               
                                                PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAIN WATAMPONE
2017


KATA PENGANTAR



Syukur alhamdullilah senangtiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah Swt. Karena atas berkah, rahmat, hidayat dan kesehatan dari-Nya, sehingga kita bisa menyelesaikan makalah ini. Dan tak lupa shalawat dan salam kita kirimkan untuk baginda Nabiullah Muhammad Saw, nabi yang telah membawa ummatnya dari zaman jahiliah kezaman yang terang-benderang, juga nabi yang telah diutus oleh Allah Swt. kemuka bumi ini sebagai rahmatanlilalamin.
Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu mata kuliah yakni Ababul Muallim Wa Al Muta’allim. Kami berharap dalam penyusunan makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.
Tentunya kami sadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik kami perlukan dalam hal yang bersifat membangun karena tidak dipungkiri bahwa makalah ini masih terdapat kesalahan dalam penyusunanya.        
           
Watampone,25 September 2017



Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................             ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................             iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.....................................................................................................             1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................             1
C.     Tujuan Pembahasan.............................................................................................             1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Adabul Muallim wal Muta’allim..........................................................................           2
B.     Etika dan kewajiban guru ...................................................................................            5
C.     Etika pelajar.........................................................................................................           5
D.    Adab Seorang Guru.............................................................................................            6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan..........................................................................................................          11
B.     Saran....................................................................................................................         11
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................          12

 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Manusia dilahirkan ke dunia ini tanpa pengetahuan apapun, tetapi dalam kelahirannya telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkan untuk menguasai berbagai pengetahuan, dengan mengfungsikan fitrah itu diharapkan manusia dapat belajar dari masyarakat. Diantaranya tanda dari fitrah itu adalah Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna,dengan menganugrahkan berbagai potensi akal dan potensi jasmani (fisik).Seiring dengan perjalanan hidup manusia di dunia dengan kata lain manusia butuh interaksi terhadap orang lain melalui pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki manusia agar menjadi optimal.
            Pendidikan tidak bisa lepas dari kegiatan proses belajar mengajar karena di dalam pendidikan mengandung timbal balik antara pendidik dan pengajar yang berlangsung untuk mencapi tujuan tertentu dalam proses belajar mengajar, dan pendidik dalam konsep Islam, pelajar dan pengajar harus memperhatikan  beberapa aturan yang bersifat akhlaki agar memperoleh kemanfaatan ilmunya sehubungan dengan adanya persoalan tersebut maka perlu adanya pembahasan tentang etika yang menyangkut  keseluruhan aspek nilai perilaku.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud adabul muallim wa al mata’allim?
2.      Bagaimana adab seorang guru?
C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui adabul muallim wa al muta’allim
2.      Untuk mengetahui adab seorang guru

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Adabul Muallim Wal Muta’allim
Kitab adabul muallim wal muta’alim meliputi beberapa bab, diantaranya
1.      keutamaan ilmu dan ulama serta keutamaan proses belajar dan mengajar
2.      akhlak pelajar pada dirinya sendiri
3.      akhlak pelajar terhadap gurunya
4.      akhlak pelajar terhadap pelajarannya
5.      akhlak guru terhadap diri sendiri
6.      akhlak guru ketika mengajar
7.      akhlak guru terhadap pelajar
8.      tata krama seorang guru didalam pelajarannya
9.      menerangkan tentang tata krama seorang guru bersama muridnya
10.  tata krama seorang pelajar dengan buku-buku sebagai alatnya ilmu
Hasyim asy’ari dalam kitab adabul muallim wal muta’allim
1. Hendaknya seorang murid meneliti terlebih dahulu dengan meminta petunjuk kepada Allah siapa guru yang harus diambil dengan mempertimbangkan akhlak dan etikanya
Dengan konsep di atas, sangat jelas bahwa murid di tuntut untuk hati-hati memilih guru dalam belajarnya.hal ini akan berakibat pada diri murid itu sendiri.

2. Memperhatikan apa yang menjadi haknya dan tidak melupakan keutamaan dan kebaikannya, serta mendoakan gurunya baik ketika ia hidup atau ia meninggal dan memelihara       kekerabatan     dan      keturunannya.
Hubungan yang dimaksud adalah adanya keterkaitan secara interen dan erat tidak hanya dalam artian lahir, akan tetapi juga batin. Jadi inilah yang menjadi bukti, bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari sangat humanis dan bersifat religius, sehingga apa yang menjadi ajarannya menjadi bahan acuan yang sangat penting dalam mengembangkan komunitas pendidikan yang respec terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan      relegiusitas      dalam  kehidupan.

3. Hendaknya memandang gurunya dengan penuh ketulusan dan ketakziman serta menyakini bahwa guru mempunyai kualitas dalam mengajar.
Konsekuensi dari konsep ini adalah profesionalisme guru harus benar-benar qualified baik secara keilmuan yang menjadi spesifikasi maupun keilmuan pendukung lainnya. Dengan demikian guru mempunyai otoritas yang efektif dalam proses belajar mengajar pada akhirnya akan menjadikan pendidikan berjalan secara maksimal. Dengan kata lain, seorang guru dituntut untuk komimen terhadap profesionalisme dalam            mengemban     tugasnya.
Karena seorang guru bisa dikatakan profesional apabila dalam dirinya terdapat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap kometmen terhadap mutu dan hasil kerja serta sikap continous improvemen, yaitu selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya. Yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamanya di masa depan.

4. Murid tidak diperkenankan memanggil gurunya dengan sebutan namanya atau dengan Dhomir mukhotobah.
Penekanan ini akan berpengaruh terhadap kewibawaan guru dan menjadikan hubungan yang saling menghormati dan menumbuhkan dedikasi yang besar dalam lingkungan pendidikan. Bagaimana egaliter dan demokratisnya proses pendidikan, tetap menumbuhkan sikap dan prilaku yang beretika dan berakhlak. Dengan demikian, sikap dan prilaku yang diwujudkan ini bukan berarti tidak demokratis dan egaliter, akan tetapi lebih dipahami sebagai bagian dari penumbuhan tingkat kedewasaan dan sikap mental yang      baik     bagi     anak     didik.

5. Hendaknya murid dilarang masuk keruangan guru tanpa izin, dan menghilangkan bau serta memakai pakaian rapi ketika berada di ruang belajar.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa Hasyim Asy’ari mencoba memberikan bimbingan dan proses belajar hendaknya dilakukan secara baik dan rapi, beretika dan disiplin. Masalah penampilan merupakan hal yang mendapat perhatian karena menyangkut keberhasilan pendidikan afektif psikomotorik.

6. Hendaknya murid jangan bicara ketika guru sedang menyampaikan materi atau memotongpembicaraannya.
Kaitannya dengan penciptaan suasana belajar mengajar Hasyim Asy’ari melarang muridnya memotong pembicaraan guru sebelum selesai berbicara. Begitu juga tidak diperkenankan berbicara dengan orang lain sementara guru sedang mengajar.

7. Hendaknya murid memilih orang yang dipandang berilmu serta etika dan akhlaknya baik          dalam  belajarnya
Dengan konsep di atas, sangat jelas bahwa Murid di tuntut untuk hati-hati memilih guru dalam belajarnya. Hal ini akan berakibat pada pada murid sendiri.

8. Hendaknya orang yang akan dijadikan guru itu adalah harus beryari’at yang baik serta   diakui  kemampuannya            oleh     guru-guru        lainnya..
Karena profesi seorang guru tidak boleh mengabaikan kewajibannya. Ia wajib bekerja untuk dapat menghasilkan ilmu yang berkelanjutan, serta banyak membaca, menelaah, berfikir dan berdiskusi. Hal ini dilakukan karena derajat seorang guru yang alim           sama    dengan            derjata para     ulama’.
9. Hendaknya murid bersikap sopan santun di depan gurunya.
Dalam hal ini, bagaimana murid duduk dan bersikap dengan sopan ketika berhadapan dengan gurunya, lebih-lebih dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.

10. Hendaknya murid berlemah lembut kepada gurunya dalam berbicara.
Dari sini dapat di lihat, bahwa seorang murid menunjukkan sikap akhlak yang baik terutama kepada gurunya, yaitu berupaya menyenangkan hati sang guru, serta tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidaksenangan sang guru.
Etika dan Kewajiban Seorang Pengajar / Guru
a.       Memperlakukan para murid dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri
b.      Mengikuti tauladan rosul , tidak mengharapkan upah, biasakan ataupun ucapkan terimakasih dengan ikhlas
c.       Jangan lupa  menasehati murid tentang hal-hal yang baik
d.      Jangan lupa mencegah dan menasehati murit dari akhlak tercela, tidak secara terang-terangan  tapi hendaknya gunakan dengan sendirian.
e.       Terangkanlah dengan kadar kemampuan akal murid hingga batas kemampuan pemahaman mereka.
f.        Definisi Hendaknya seorang guru harus mengajar muridnya yang pemula dengan pelajaran yang simple dan mudah dipahami
g.       Seorang guru harus mengamalkan ilmunya[1]

Etika pelajar
Dengan menjelaskan keutamaan belajar Al-Ghozali  mempertegaskan dalam ayat Al-quran Qs  At-taubah : 122 .

Artinya;” Orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.AT-TAUBAH: 122)




Etika yang harus dilakukan oleh seorang pelajar yaitu:
1)      Membersihkan jiwa dari kejelekan akhlak, dan keburukan sifat karena ilmu itu adalah ibadahnya sholat secara samar dan kedekatan batin kepada Allah
2)      Menyedikitkan hubungan dengan sanak keluarga dari hal keduniawian
3)      Tidak sombong terhadap ilmu dan pula menjahui tindakan tidak terpuji, terhadap guru
4)      Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya sehingga selesai dengan mengetahui hakikatnya. Karena keberuntungan melakukan sesuatu itu adalah menyelami (tabahhur) dalam sesuatu yang dikerjakan
5)      Jangan terburu-buru atau tergesa-gesa kecuali kita telah menguasai ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah sistimatik, satu bagian saling terkait dengan yang lainya
6)      Pelurusan ujuan hanya karena Allah bukan karena harta dll[2]

            Etika murid terhadap guru yang dirumuskan oleh Hasyim Asy’ari tersebut di atas tampak masih cukup relevan untuk diaplikasikan dalam kegiatan proses belajar mengajar di masa sekarang, kerena etika tersebut tersebut di samping tidak membunuh kreativitas murid, juga dapat mendorong terciptanya akhlak yang mulia di kalangan pelajar, dalam hal ini juga menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan Islam
B.     Adab Seorang Guru
Apakah adab itu?
            Menurut Prof. Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat        yang    berlaku            dalam  tabiat   semesta.”
Contoh 1: Manusia yang beradab kepada Alloh ta’ala adalah manusia yang mengenal Alloh dan mengakui hak dan kedudukan Alloh sebagai Pencipta alam semesta, yaitu disembah. Kemudian manusia tersebut merespon dengan melaksanakan sholat sebagai bentuk penyembahan dia kepada Alloh ta’ala. Itulah contoh manusia yang beradab  kepada          Alloh   ta’ala.
Contoh 2: Anak yang beradab kepada orang tuanya adalah anak yang mengenal dan mengakui bahwa Alloh menciptakan dia melalui perantara orangtuanya. Ia menyadari bahwa orangtuanya telah merawat, menjaga, dan mendidiknya hingga dia cukup umur. Olehkarena itu orangtua berhak mendapatkan baktinya. Kemudian si anak merespon dengan berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Itulah contoh anak yang     beradab           kepada  orangtua.

Adab-adab seorang guru
            Diantara adab bagi seorang guru adalah berniat untuk mendapatkan ridlo Alloh ta’ala, berhati-hati dan tidak serampangan dalam menjawab pertanyaan, jika berbuat salah mau mengakui dan memperbaiki (inshaf), tawadlu dan tidak sombong, simpatik dan penuh kasing sayang kepada murid, senantiasa belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

1. Berniat untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala
Seorang guru hendaknya meniatkan diri belajar dan mengajar untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala, menyebarkan ilmu, menghidup-hidupkan agama, menegakkan kebenaran, berharap menumbuhkan bibit-bibit ulama yang menerangi manusia, serta mengharap pahala dari Alloh ta’ala. Seorang guru hendaknya tidak merendahkan dirinya dengan hanya mencari kemuliaan di dunia saja, hanya untuk mendapatkan harta benda, popularitas, kekuasaan dan tujuan duniawi lainnya
2. Berhati-hati, tidak serampangan menjawab pertanyaan
Ketika mendapatkan pertanyaan dari murid, biasanya seorang guru berhasrat untuk menjawabnya. Ini adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar ketika, karena merasa malu jika dikatakan tidak bisa menjawab pertanyaan, seorang guru selalu menjawab setiap pertanyaan murid, padahal dia sendiri tidak memahami persoalan tersebut. Hal ini tentu berakibat buruk
3. Jika berbuat salah, mengakui dan mau memperbaiki (inshaf)
Kadangkala kita temui ada seorang guru yang merasa dirinya paling pandai dan paling benar

4. Tawadlu dan tidak sombong, tidak menolak kebenaran dari orang lain, walaupun lebih  muda   usianya.
Seorang guru layaknya menjadi teladan bagi muridnya bahwa belajar itu bisa dari siapa saja, termasuk orang yang usianya lebih muda. Jangan mentang-mentang sudah jadi guru, lalu enggan belajar dari orang yang lebih muda, bahkan muridnya sendiri pun. Mari kita saksikan bagaimana para maha guru kita memberikan teladan.
Diriwayatkan dari al-Fudhail bin ‘Iyadh, “Sesungguhnya Alloh mencintai orang ‘alim yang rendah hati dan membenci orang ‘alim yang angkuh. Dan, barangsiapa yang bersikap rendah hati semata-mata karena Alloh, maka Alloh akan mewariskan hikmah                      kepadanya.”

5. Bersikap simpatik dan penuh kasih sayang kepada murid
Bagaimana mungkin seseorang mau belajar dari orang yang dia benci? Begitu juga seorang murid, dia akan cenderung malas dan menolak belajar dari guru yang dia tidak sukai. Oleh karena itu, hendaknya seorang guru bersikap simpatik kepada murid
6. Senantiasa belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri
Seorang ahli ilmu adalah pembelajar sejati. Dia tidak pernah berhenti belajar. Seorang guru pun demikian, hendaknya senantiasa belajar dan belajar untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.
Sejatinya, tugas guru adalah membangun peradaban suatu masyarakat dan bangsa. Hari ini, kita merasakan keprihatinan luar biasa atas maraknya perilaku menyimpang di kalangan para pelajar, seperti tawuran, perusakan (bullying), contek massal,        penggunaan     narkoba,          dan      praktik seks     bebas. 
Meski bukan satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab, namun guru terposisi sebagai pihak paling diharapkan peran dan fungsinya untuk membenahi perilaku anak-anak kita. Peradaban yang selamat dan menyelamatkan membutuhkan sosok guru yang terampil mengajarkan ilmu (pengajar) dan bisa jadi suri tauladan (pendidik). 

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku telah diutus (oleh Allah) sebagai seorang pengajar.” (HR Ibnu Majah). Sebagai pengajar, Rasulullah SAW merupakan sosok yang bijaksana, melimpah kasih sayangnya, metode pengajarannya menyenangkan, ucapannya lugas dan jelas, cerdas, memiliki perhatian yang besar kepada siapa saja muridnya.
Sebagai pendidik, Rasulullah SAW merupakan pribadi dengan akhlak yang mulia (QS Al-Qalam: 4). Ketika anak-anak kita menunjukkan perilaku tidak beradab di tengah-tengah masyarakat, maka para guru mesti bermuhasabah, masihkah para guru komitmen dan konsisten mengamalkan adab menjadi seorang guru? Adab merupakan akhlak, moral, tata krama, etik, nilai, atau pandangan hidup (Pusat Bahasa Kemdiknas,2008). 

Jadi, adab guru adalah akhlak guru atau nilai-nilai yang mendasari keyakinan guru dalam berpikir dan bersikap. Ada lima adab yang harus istiqomah diamalkan guru sebagai pengajar maupun pendidik.
·         Pertama, mengajar bukan karena tujuan ingin mendapatkan imbalan dan bukan pula karena mengharapkan ucapan terima kasih. Mengajar diniatkan sebagai salah satu cara untuk beribadah dengan mengharapkan ridha Allah SWT.
·         Kedua, mengingatkan murid akan akhlak yang buruk dengan ungkapan kasih sayang, tidak secara terang-terangan, dan dengan ungkapan yang lemah lembut bukan celaan. Alangkah lebih baiknya para guru merenungi kata-kata hikmah dari Imam As-Syafie: “Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu.” Nasihatilah murid-murid kita dengan kasih sayang dan menutupi aibnya agar tidak diketahui orang lain. 
·         Ketiga, dianjurkan saat memberikan pelajaran, guru memberikan penjelasan secara gamblang agar bisa dipahami oleh semua murid, bahkan oleh murid dengan kemampuan daya tangkap rendah sekali pun. Imam Tirmidzi dalam Kitab Asy-Syamail meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya ia berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah berkata dengan tergesa-gesa sebagaimana yang biasa kalian lakukan. Akan tetapi, beliau berkata dengan ucapan yang sangat jelas dan rinci, sehingga orang lain yang duduk bersamanya akan dapat memahami setiap perkataan beliau.” (HR Imam       Tirmidzi).
·         Keempat, guru menyayangi murid-muridnya seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orangtua kepada anaknya. Aku mengajari kalian.” (Ibnu Majah melalui         Abu     Hurairah).
·         Kelima, hendaknya guru berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan antara perkataan dan perbuatan. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu menyuruh manusia (melakukan) kebajikan dan kamu melupakan (untuk menyuruh) diri kamu sendiri...” (QS. Al-Baqarah: 44). 

Ketika murid tak mau mendengarkan dan mengikuti nasihat guru, alih-alih kita marah dan menyalahkan perilaku murid, marilah bertanya dahulu pada diri sendiri, “Apakah saya sudah menjadi guru yang beradab? Sudahkah saya melakukan apa yang saya katakan kepada murid-murid?” Jangan pernah berdusta pada diri sendiri dan para murid! Jika murid saja tak suka apalagi Allah SWT (QS Ash-Shaff: 3).



[1] Az-Zarnujji, Terjemahan TA’LIM MUTA’ALLIM, Cet.1, (Surabaya : Mutiara Ilmu, 2009),    hlm. 04-07
[2] Mustakim zaenal,Strategi dan Metode Pembelajaran,Cet.2, (Yogyakarta : matagraf,2011) h. 4



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.                  keutamaan ilmu dan  orang yang memiliki ilmu, hanyalah hak ulama yang mengamalkan ilmunya, berkepribadian baik dan bertakwa yang bertujuan untuk memperoleh keridhaan Allah SWT, dekat dihadapanNya dengan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.Bukanlah orangyang ilmunya dimaksudan untuk tujuan-tujuan duniawi, yakni jabatan, harta benda atau berlomba-lomba memperbanyak    pengikut.
Telah diriwayatkan dari Nabi SAW: “Barang siapa mencari ilmu untuk menjatuhkan para ulama’, atau berdebat dengan para ahli fiqh atau bertujuan untuk memalingkan pandangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka” (H.R. Al   Turmudzi)
2.                  adab bagi seorang guru adalah berniat untuk mendapatkan ridlo Alloh ta’ala, berhati-hati dan tidak serampangan dalam menjawab pertanyaan, jika berbuat salah mau mengakui dan memperbaiki (inshaf), tawadlu dan tidak sombong, simpatik dan penuh kasing sayang kepada murid, senantiasa belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri

B.     Saran
Kita sebagai manusia untuk menjadi pemikir sejati, dibutuhan ketajaman pikiran, kecerdasan, kepekaan diri, dalam memahami situasi, kecakapan dalam mencari jalan keluar setiap persolan, serta memiliki hidup yang terus-menerus (istiqomah) dalam menggali pengetahuan . dan semua itu tak akan dapat semua tercapai kecuali dengan proses belajar mengajar.
       Kami menyadari bahwa mungkin makalah kami ini jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi peningkatan makalah kami ini dimasa mendatang. Dan makalah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin yarobbal’alamin.






DAFTAR PUSTAKA


Mustakim zaenal.Strategi dan Metode Pembelajaran,Cet.2,Yogyakarta : matagraf.2011
Az-Zarnujji,Terjemahan TA’LIM MUTA’ALLIM,Cet.1,Surabaya : Mutiara Ilmu,2009
Homalik Oemar. Pendidikan  Guru, Jakarta: Sinar Grafika Offset,2004

Kamis, 01 Juni 2017

makalah pendidikan karakter



Karakter Dan Pendidikan Karakter


MAKALAH

Tugas ini dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada mata Kuliah Bahasa Indonesia pada Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam  Semester 2
                                                                        OLEH:

Chilma Nihayatul Ulya
02161140

Dosen Pemandu : Andi Sri Mularahmah,.S.Pd,.M.Pd
                                   
                                               
                                                PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAIN WATAMPONE
2017







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak factor yang meneybabkan runtuhnya karakter bangsa Indonesia pada saat ini. Diantaranya adalah factor pendidikan. Kita tentu sadar bahwa pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan mengakselerasi pembinaan karakter bangsa dan juga berfungsi sebagai arena mencapai principal dalam pembinaan karakter bangsa. Berkaitan dengan pembentuka karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, mermoral dan sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar,2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mataoleh pengetahuan dan kemampuan teknis saja(hard skill), tetapi lebih oleh kemampuan menelola diri dan orang lain(soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan soft skill. Bahkan orang orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat di Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill.
B.Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yakni.
1.      Apa pengertian karakter?
2.      Seperti apa pendidikan karakter?
3.      Bagaimana peran keluarga dalam pendidikan karakter?
4.      Bagaimana peran guru disekolah dalam pendidikan karakter?
5.      Bagaimana hubungan pendidikan karakter dengan kecerdasan moral?

C.Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan makalah ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui apa itu karakter
2.      Untuk mengetahui pendidikan karakter
3.      Untuk mengetahui peran keluarga dalam pendidikan karakter
4.      Untuk mengetahui peran guru dalam pendidikan karakter
5.      Untuk mengetahui hubungan pendidikan karakter dengan kecerdasan moral
 


BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Karakter
            Apa itu karakter? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ‘karakter’ berarti ‘sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.[1] Bila dilihat dari asal katanya, istilah ‘karakter’ berasal dari bahasa Yunani karasso, yang berarti ‘cetak biru’,’format dasar’ atau ‘sidik’ seperti dalam sidik jari.[2]
            Secara konseptual, lazimnya, istilah ‘karakter’ dipahami dalam dua kubu pengertian. Pengertian pertama , bersifat determinstik. Disini karakter dipahami sebagai sekumpulan kondisi rohaniah pada diri kita yang sudah teranugerahi atau ada dari sononya( given). Dengan demikian ia merupakan kondisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah. Ia merupakan tabiat seseorang yang bersifat tetap, menjadi tanda khusus yang membedakan orang yang satu dengan lainnya. Pengertian kedua , bersifat non determinstik atau dinamis. Disini karakter dipahami sebagai tingkat kekuatan atau ketangguhan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaniah yang sudah given. Ia merupakan proses yang dikehendaki oleh seseorang (willed) untuk menyempurnakan kemanusiaannya.
            Bertolak dari tegangan (dialektika) dua pengertina itu, muncullah pemahaman yang lebih realistis dan utuh mengenai karakter. Ia dipahami sebagai kondisi rohaniah yang belum selesai. Ia bisa diubah dan dikembangkan mutunya, tapi bisa pula diterlantarkan sehingga tak ada peningkatan mutu atau bahkan makin terpuruk.
            Berdasarkan pemahaman itu, maka orang yang bersifat pasrahpada kondisi-kondisi diri yang sudah ada, disebut berkarakter lemah. Disisi lain, mereka yang tak mau begitu saja menerima kondisi-kondisi diri yang sudah ada, melainkan berusaha mengatasinya, disebut berkarakter kuat atau tangguh, mereka senagtiasa berupaya menyempurnakan diri, meskipun menghadapi  tekanan dari luar dan godaan dari dalam.
Pendidikan Karakter
            Pendidikan karakter adalah upaya tang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (good character) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat. Kebajikan-kebajikan inti disini merujuk pada dua kebajikan fundamental dan sepuluh kebajikan esensial sebagaimana telah diuraikan diatas.
            Dalam paradigma lama, keluarga dipandang sebagai tulang punggung pendidikan karakter. Hal ini bisa dipahami, karena pada masa lalu, lazimnya keluarga-keluarga bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak-anak untuk mengenal dan mempraktikkan berbagai kebajikan. Para orang tua biasanya memiliki kesempatan mencukupi serta mampu memanfaatkan tradisi yang ada untuk mengenalkan secara langsung berbagai kebajikan kepada anak-anak melalui teladan, petuah, cerita/dongeng, dan kebiasaan setiap hari secara intensif. Demikianlah, keluarga-keluarga pada masa lalu umumnya dapat diandalkan sebagai tulang punggung pendidikan karakter.
            Akan tetapai, proses modernisasi membuat banyak keluarga mengalami perubahan fundamental.[3] Karena tuntutan pekerjaan, kini banyak keluarga yang hanya memiliki sangat sedikit waktu bagi berlangsungnya perjumpaan yang erat antara ayah, ibu, dan anak. Bahkan, makin banyak keluarga yang, karena tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, memilih untuk tidak tinggal dalam satu rumah, melainkan saling berjauhan tempat tinggal antara ayah, ibu, dan anak. Belum lagi, makin banyak keluarga bermasalah ,tidak harmonis, terjadi baerbagai kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian.
            Singkat kata, kini makin banyak keluarga yang tidak bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak-anak untuk mendaparkan pendidikan karakter. Itulah sebabnya amat baik bila sekolah menyelenggarakan pendidikna karakter. Bahkan, sekolah perlu terus berupaya menjadikan dirinya sebagai tempat terbaik bagi kaum muda untuk mendapatkan pendidikan karakter.
            Sedikitnya, ada empat alasan mendasar mengapa sekolah pada masa sekarang perlu lebih bersungguh-sungguh menjadikan dirinya tempat terbaik bagi pendidikan karakter.[4] Diantaranya sebagai berikut :
1.      Karena banyak keluarga (tradisional maupun non tradisional) yang tidak melaksanakan pendidikan karakter
2.      Sekolah tidak hanya bertujuan membentuk anak yang cerdas, tetapai juga anak yang baik
3.      Kecerdasan seorang anak hanya bermakna manakala dilandasi dengan kebaikan
4.      Karena membentuk anak didik agar berkarakter tangguh bukan sekadar tugas tambahan bagi guru, melainkan tanggung jawab yang melekat pada perannya sebagai seorang guru
Mengapa kini banyak orang menginginkan agar sekolah makin peduli pada pendidikan karakter?. Itu karena pendidikan karakter ibarat sauh yang membuat kita semua punya alas an kuat untuk tetap memiliki harapan dan sikap optimis bahwa masyarakat yang lebih baik akan terwujud kelak dikemudian hari. Maka, sungguh sayang manakala ada sekolah yang mengabaikan atau bersikap setengah hati dalam menanggapi keinginan masyarakat itu. Sekolah yang berdedikasi, pastilah akan menerima dengan antusias tanggung jawab social yang cukup menantang
Ada beberapa prinsip pendidikan karakter, meliputi:
a)      Sekolah harus berkomitmen pada nilai nilai etis inti
b)      Karakter harus dipahami secara utuh, mencakup pengetahuan atau pemikiran, perasaan, dan tindakan
c)      Sekolah harus bersikap proaktif dan bertindak sistematis dalam pembelajaran karakter dan tidak sekedar menunggu datangnya kesempatan
d)     Sekolah  harus membangun suasana saling memperhatikan satu sama lain dan menjadi dunia kecil mengenai masyarakat yang salin peduli
e)      Sekolah perlu bekerja bersama dan mendialogkan norma mengenai pendidikan karakter
f)       Harus dilakukan evaluasi mengenai efektifitas pendidikan karakter disekolah terutama terhadap guru dan karyawan, serta siswa
Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter
Pengembangan karakter merupakan proses seumur hidup . pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga (kakek-nenek), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Oleh karena itu keempat koridor ini harus berjalan secara terintegrasi. Pemerintah, lembaga social, tokoh masyarakat/tokoh agama, pemuka adat, dan lainnya memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dalam melaksanakan pendidikan karakter. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter juga. Dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Untuk itu tiga pihak yang mempunyai peran penting agar pembangunan karakter pada anak dapat ditumbuh kembangkan, yaitu keluarga, sekolah dan komunitas.
Pada keluarga inti, peranan utama pendidikan terletak pada ayah dan ibu. Philips menyarankan bahwa keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang , atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang. Menurut Gunaldi, ada tiga peran utama yang dapat dilakukan ayah dan ibu dalam mengembangkan karakter anak. Pertama berkewajiban menciptakan suasana yang hangat dan tenteram. Tanpa ketentraman akan sukar bagi anak untuk belajar apapun dan anak akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan jiwanya. Ketegangan atau ketakutan adalah wadah yang buruk bagi perkembangan karakter anak. Kedua, menjadi panutan yang positif bagi anak sebab anak belajar terbanyak dari apa yang dilihatnya, bukan dari apa yang didengarnya. Karakter orang tua yang diperlihatkan melalui perilaku nyata merupakan bahan pelajaran yang akan diserap anak. Ketiga, mendidik anak, artinya mengajarkan karakter yang baik dan mendisiplinkan anak agar berperilaku sesuai dengan apa yang telah diajarkannya..[5]
Secara perinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan ayah-ibu untuk melakukan pengasuhan yang tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, antara lain:
1.      Menempatkan tugas dan kewajiban ayah-ibu sebagai agenda utama.
2.      Mengevaluasi cara ayah-ibu dalam menghabiskan waktu selama sehari/seminggu
3.      Menyiapkan diri menjadi contoh yang baik
4.       Membuka mata dan telinga terhadap apa saja yang sedang mereka serap/alami
5.      Menggunakan bahasa karakter
6.      Memberikan hukuman dengan kasih sayang
7.      Belajar untuk mendengarkan anak
8.      Terlibat dalam kehidupan sekolah anak
9.      Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja
10.  Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja
Keluarga adalah sekolah tempat putra putri belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti kesetiaan, rahmat, dan kasih sayang. Dari kehidupan keluarga seorang ayah dan suami memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dan upaya dalam membela sana keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah kematiannya. Keluarga adalah unit terkecil yang bisa menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Tidaklah memeleset jika dikatakan al-usrah’imad al-bilad biha tahya wa biha tamut (keluarga adalah tiang Negara, dengan keluargalah Negara bangkit dan runtuh).
Peran Guru di Sekolah dalam Pendidikan Karakter
            Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Apa yang membuat guru dikatakan hebat? Kualitas apa yang diharapkan pada diri seorang guru? Berikut adalah beberapa tips bagaimana menjadi guru berkarakter yang hebat.[6]
1.      Mencintai anak. Cinta yang tulus kepada anak adalah modal awal mendidik anak. Guru menerima anak didiknya apa adanya, mencintainya tanpa syarat dan mendorong anak untuk melakukan yang terbaik pada dirinya. Penampilan yang penuh cinta adalah dengan senyum, sering tampak bahagia dan menyenangkan dan pandangan hidupnya positif.
2.      Bersahabat dengan anak dan menjadi teladan bagi anak. Guru harus bisa diguru dan ditirunoleh anak. Oleh karena itu, setiap apa yang diucapkan dihadapan anak harus benar dari sisi apa saja. Keilmuan moral, agama dan budaya. Cara penyampaianya pun harus “menyenangkan” dan beadab. Ia harus bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa kikuk. Anak senangtiasa mengamati perilaku gurunya dalam setiap kesempatan.
3.      Mencintai pekerjaan guru. Guru yang mencintai pekerjaannya akan senagtiasa bersemangat. Setiap tahun ajaran baru adalah dimulainya satu kebahagiaan dan satu tantangan baru. Guru yang hebat tidak akan merasa terbebani dan bosan.
4.      Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Guru harus terbuka dengan tekhnik mengajar baru, membuang rasa sombong dan selalu mencari ilmu. Ketika masuk kelas, guru harus dengan pikiran terbuka dan tidak ragu mengevaluasi gaya mengajarnya sendiri, dan siap berubah jika diperlukan
5.      Tidak pernah berhenti belajar. Dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya, guru harus selalu belajar dan belajar.

Gambar: Ciri Guru Berkarakter
            Apabila ciri-ciri tersebut dimiliki oleh guru alih alih disbut sebagai guru berkarakter, tentu keresahan di dunia pendidikan tidak akan terjadi. Keresahan yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah kekerasan terhadap siswa. Sekedar contoh, yang masih diingatan kita adalah kasus seorang guru yang menendang siswanya hingga geger otak, kasus seorang guru yang memukuli satu persatu siswanya yang terlambat masuk kelas. Mengapa demikian? Beban tugas guru yang berat, kesejahteraan yang belum baik, dan rendahnya”kecerdasan” emosional merupakan salahsatu sebab mengapa guru bisa berbuat khilaf dengan jalan menebarkan aroma kekerasan didalam kelas.
            Menurut Carl Witherington, ada empat hal yang harus diketahui guru untuk mengetahui emosi siswanya, yaitu
1)      Aspek emosi yang terlihat oleh mata seperti gemetar, takut sehingga matanya terbelalak, menggeretakkan gigi unruk mengepresiasikan rasa marah dan sebagainya.
2)      Emosi yang ditunjukkan oleh sikap kurang senang, senang, benci.
3)      Ungkapan-ungkapan atau umpatan dari siswa, dan
4)      Kecenderungan emosi yang bersifat kualitatif, misalnya dirangsang oleh individu lain hingga timbul rasa senang, benci, jijik, malu, marah dan sebagainya


Ciri Dasar Pendidikan Karakter
            Menurut Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog jerman, ada empat cirri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan. Kedua, koherensi yang member keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau dekat resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadu nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik, dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.[7]
Gambar: Ciri dasar pendidikan Karakter
Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster. Memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas.”orang-orang modern sering mencampuradukkan individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior’’. Karakter inilah yang menentukan performa seorang pribadi dalam segala tindakannya.
            Dalam praktiknya, Lickona dkk menemukan sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan evektif kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut[8]
1)      Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik
2)      Devinisikan ‘karakter’ secara komperehensif, yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku
3)      Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter
4)      Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian
5)      Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral
6)      Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil
7)      Usahakan mendorong motivasi diri siswa
8)      Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa
9)      Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter
10)  Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter
11)  Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.
Dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendevinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Selain itu, sekolah harus mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebutdisekolah dan masyarakat
Hubungan Pendidikan karakter dengan pengembangan kecerdasan moral
            Pendidikan karakter secara esensial, yaitu untuk mengembangkan kecerdasan moral atau mengembangkan kemampuan moral anak-anak. Cara menumbuhkan karakter yang baik dalam diri anak didik adalah dengan membangun kecerdasan moral. Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah, artinya memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat[9]. Kecerdasan yang sangat penting ini mencakup karakter-karakter utama, seperti kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain dan tidak bertindak jahat, mampu mengendalikan dorongan dan memunda pemuasan, mendengarkan dari berbagai pihak sebelum memberikan penilaian, menerima dan menghargai perbedaan, bisa memahami pilihan yang tidak etis, dapat berempati, memperjuangkan keadilan, dan menunjukkan kasih sayang dan rasa hormat terhadap orang lain. Ini merupakan sifat-sifat utamayang akan membentuk anak menjadi baik hati, berkarakter kuat, dan warga Negara yang baik. Inilah yang paling diharapkan dari anak-anak kita.
            Kecerdasan moral dapat dipelajari, dan dapat memulai membangunnya saat anak masih dalam usia balita. Meski pada usia tersebut mereka belum mempunyai kemampuan kognitif untuk melakukan penalaran moral, seperti melatih control diri, bersikap adil, menunjukkan rasa hormat, berbagi dan berempati. Namun kenyetaannya, riset terbaru dalam bidang perkembanagan moral menunjukkan bahwa bayi berusia enambulan sudah dapat menunjukkan respons terhadap kesedihan orang lain dan mempelajari dasar-dasar empati. Kesalahan yang seringterjadi adalah orang tua menunggu hingga anak berusia enam atau tujuh tahun(yang disebut tahap penalaran) untuk membangun moral. Penundaan seperti itu hanya akan membuat anak semakin berkesempatan mempelajari kebiasaan negative yang merusak. Hal ini akan mengganggguperkembangan moral, sehingga mereka semakin sulit untuk berubah. Meski kecerdasan moral dapat dipelajari, tetapi tidak dijamin dapat dicapai. Kecerdasan moral harus secara sadar dipelajari dan ditumbuhkan. Semakin cepat menanamkan kemampuan kecerdasan moral anak, semakin besar kesempatannya membangun dasar-dasar yang dibutuhkan bagi pembentukan karakter yang kuat, serta kesempatannya mengembangkan kemampuan berpikir, berkeyakinan, dan bertindak sesuai nilai-nilai moral. Kecerdasan moral terbangun dari beberapa kebajikan utama yang membantu anak menghadapi tantangan dan tekanan etika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupannya kelak. Kebajikan utama tersebutlah yang akan melindunginya agar tetap selalu bermoral dalam bertindak. Berikut tujuh kebajikan utama yang akan menjaga sikap baik seumur hidup pada anak[10]:
a.       Empati
b.      Hati nurani
c.       Kontrol diri
d.      Rasa hormat
e.       Kebaikan hati
f.       Toleransi
g.      Kedilan






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      karakter dipahami sebagai tingkat kekuatan atau ketangguhan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaniah yang sudah given. Ia merupakan proses yang dikehendaki oleh seseorang (willed) untuk menyempurnakan kemanusiaannya.
2.      Pendidikan karakter adalah upaya tang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (good character) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat
3.      Peran keluarga sangat penting dalam pendidikan karakter karena keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
4.      Menurut Carl Witherington, ada empat hal yang harus diketahui guru untuk mengetahui emosi siswanya, yaitu
1)             Aspek emosi yang terlihat oleh mata seperti gemetar, takut sehingga matanya terbelalak, menggeretakkan gigi unruk mengepresiasikan rasa marah dan sebagainya.
2)             Emosi yang ditunjukkan oleh sikap kurang senang, senang, benci.
3)             Ungkapan-ungkapan atau umpatan dari siswa, dan
4)             Kecenderungan emosi yang bersifat kualitatif, misalnya dirangsang oleh individu lain hingga timbul rasa senang, benci, jijik, malu, marah dan sebagainya
5.      Cara menumbuhkan karakter yang baik dalam diri anak didik adalah dengan membangun kecerdasan moral. Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah, artinya memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat
B.     Saran
Penulis bersedia menerima kritik dan saran yang positif dari pembaca. Penulis akan menerima kritik dan saran tersebut sebagai bahan pertimbangan yang memperbaiki makalah ini di kemudian hari. Semoga makalah berikutnya dapat penulis selesaikan dengan hasil yang lebih baik lagi.






DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.2008 kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Gramedia Pustaka utama,2008

Doni Koesoema A.2007.pendidikan karakter. Jakarta: Grasindo
      
Lickona.1991character education in America’s school.California: Innerchoiche publishing
Saptono.2012. dimensi-dimensi pendidikan karakter.jawa tengah: Erlangga

Mukti amini.2008,pengasuhan Ayah Ibu yang patut, kunci sukses mengembangkan karakter anak. Yogyakarta:Tiara Wacana

Muslich masnur.2013. pendidikan karakter:menjawab tntangan krisis multidimensional jakarta:Bumi akasara,

      Zubaedi,2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta:Kencana




[1]      Depdiknas.. kamus Besar Bahasa Indonesia.( Jakarta: Gramedia Pustaka utama,2008), h. 623
[2]      Doni Koesoema A..pendidikan karakter. (Jakarta: Grasindo,2007)
[3]            Lickona.character education in America’s school.( California: Innerchoiche publishing1991)  h. 31
[4] Saptono.dimensi-dimensi pendidikan karakter.(jawa tengah: Erlangga,2012).h. 24
[5]            Mukti amini,pengasuhan Ayah Ibu yang patut, kunci sukses mengembangkan karakter anak(Yogyakarta:Tiara Wacana,2008), h.108
[6]             Muslich masnur.pendidikan karakter:menjawab tntangan krisis multidimensional (.jakarta:Bumi akasara,2013)  h.56
[7]       Muslich,masnur. pendidikan karakter:menjawab tntangan krisis multidimensional . h .128
[8]       Muslich,masnur.pendidikan karakter:menjawab tntangan krisis multidimensional .h. 129
[9] Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter( Jakarta:Kencana,2011). h. 57
[10] Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter, h.145